Toko Pagi Itu...

Pagi itu seperti biasanya, dibalik meja kaca yang diatasnya dipenuhi dengan berbagai kotak dan bungkus produk pertanian yang tidak tertata, pria setengah baya yang badannya terlihat ramping menatap dengan optimis bercampur gelisah yang sulit dimengerti keseluruh isi tokonya yang terlihat luas dan penuh. Tumpukan karung pupuk tampak menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit bangunan. Karung pupuk itu tersusun rapi dan berwarna-warni. Tumpukan pupuk tersebut hampir mengisi keseluruhan ruang dalam toko tersebut. Beberapa rak yang cukup panjang dan tinggi disamping tumpukan karung pupuk tersusun rapi botol produk pestisida dengan berbagai ukuran. Rak itu bermodel huruf L yang tersambung hingga ke kebelakang meja kaca tempat pria paruh baya itu berdiri. Rak itu tersusun atas lima lantai yang kesemuanya terisi penuh dengan botol-botol pestisida. Aku tak bisa membayangkan bagaimana pria itu mampu mengingat semua produk yang ada pada rak tersebut. Namun aku yakin dia mampu mengingat itu semua. Dibelakang toko itu terdapat gudang yang berisi tumpukan kardus coklat berbagai ukuran dan nama. Kardus-kardus tersebut berisi stok berbagai produk pestisida yang terpajang di rak berbentuk huruf L tersebut. Aku yakin jumlah botol dalam kardus-kardus tersebut mencapai ribuan. Entahlah aku hanya menduga dari banyaknya tumpukan kardus. 

Aku baru saja tiba di toko yang menjual banyak produk pertanian itu. Hari masih pagi dan tampak cukup sunyi sebab belum ada pengunjung atau pembeli yang datang. Biasanya memang pukul sembilan atau lewat toko baru tampak dikunjungi pembeli, sebab mayoritas konsumennya adalah para petani yang bermukim cukup jauh dari kota tempat toko itu berada. Toko pertanian yang berada tepat di persimpangan tiga jalan lintas provinsi itu terbilang sangat strategis. Keberadaannya mencolok dan mudah untuk ditemukan. Dan pria paruh baya yang berdiri dibalik meja kaca yang diatasnya bertumpuk kotak-kotak kecil berbagai produk pertanian menatapku dengan tatapan biasa.

Aku menyapa seperti biasanya pada pria paruh baya itu. Aku memanggilnya dengan sebutan "Tulang" yang berarti Paman dalam bahasa Indonesia. Sebutan tersebut adalah panggilan bagi orang yang lebih dan tua dan sopan dalam budaya suku Batak Toba. Sebagai seorang sales salah satu produk pertanian yang dijual pria paruh baya itu aku harus memastikan jalinan relasi sosial antara perusahaan dan pemilik toko terbangun dengan baik, disamping mengupayakan agar toko mengoptimalkan penjualan produk perusahaan tempat dimana aku bekerja sebagai sales. Mendorong konsumen yang notabene adalah petani yang berbelanja di toko itu agar meyakini bahwa produk yang ingin dibelinya adalah tepat juga menjadi tugas yang kuemban dari perusahaan. Dan keseharian hari itu adalah keseharian yang telah kujalani beberapa bulan terakhir. Aku mulai gundah dengan aktivitas pekerjaan yang kugeluti. 

Paman pemilik toko pertanian itu mulai membuka pembicaraan denganku tentang produk perusahaan tempat aku bekerja mulai disalip oleh produk kompetitor. Dia mulai mengeluh dengan penjualannya yang sedikit menurun bulan itu. Terkhusus pada produk dari perusahaan tempat aku bekerja. Aku mulai mengeluarkan bahasa yang terbilang tak efektif hanya untuk menenangkan kekhawatirannya; bahwa aku memastikan akan membantunya mendorong penjualan produk di lapangan/petani. Aku tahu itu hanya sekedar basa-basi, namun aku tak punya pilihan kata yang lebih realistis. Sebab bila kekhawatirannya bertambah oleh karena bahasa ku justru akan semakin mempersulit keadaan dan pekerjaanku. Dan seorang petani masuk ke dalam toko untuk membeli kebutuhannya. 

Sang Paman mulai melayani petani itu. Berbagai kebutuhannya dipenuhi dengan pasti. Petani yang tampak telah tua itu merasa kurang sedikit tidak puas sebab produk yang diinginkan tidak sesuai dengan yang ada dalam bayangannya. Hal ini menyangkut merek produk yang selama ini dia gunakan. Dia tak memahami merek-merek lain diluar produk yang dikenalnya meskipun ada beberapa yang secara substansi memiliki kandungan yang sama. Pria paruh baya pemilik toko itu meyakinkan sang pembeli bahwa produk yang diinginkannya sama fungsi dan kualitasnya dengan produk yang selama ini dia gunakan. Petani tua itu tampak kebingungan sebab tak punya informasi lebih tentang apa yang dijelaskan pemilik toko itu. Namun akhirnya petani itu membeli apa yang disarankan sang pemilik toko. Dan kemudian pergi.

Sore menjelang dan aku masih berada di toko itu. Sambil menikmati kopi dengan pemilik toko, dia bercerita bahwa produk yang dia sarankan untuk dibeli tadi pagi oleh petani tua itu merupakan produk salah satu perusahaan yang memberikan program intensifikasi kepada berupa berwisata ke luar negeri. Aku tersenyum dan menunjukkan sikap senang kepadanya dan bergumam pelan dalam hati; semoga petani tua itu mendapatkan hasil yang melimpah dari tanah yang dia usahakan.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 tahun sudah

Duka, membawaku kembali disini

Tan Malaka (Selayang Pandang Mengenal dan Mencoba Tak Lupa)